lilaemaliza

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Maret 2019

Review Burger Buto Kedai 27 Malang

Ketika anak kos mereview makanan yang jarang dimakan anak kos.
Apa jadinya ya?
Maaf kalau terlalu norak ya.
Tapi beneran ini Burger Buto nyaman di kantong dan di lidah.
Dan minta bantuan ya view like share subscribe

https://www.youtube.com/watch?v=z1wcyse-oVw&t=75s

Jumat, 01 Maret 2019

Waktu Aku Mencoba Membuat Channel Youtube Bersama Teman-teman

Ini ceritanya waktu itu aku sedang duduk dan bermain HP.
Salah satu temanku memanggil dan bilang kalau ingin membuat channel youtube
karena dia itu hobi banget dengan yang namanya dandan.
Dia itu suka coba-coba make up dari yang tidak terkenal namanya hingga yang terkenal semacam
Wardah, Maybelline, Make Over, Emina, Latulip, Revlon, dan masih banyak lagi.
Nah sedangkan aku bingung , aku nanya dia terus aku konten apa, aku cuma bisa makan.
Yasudah akhirnya bikin deh makanan, sebenernya mau share happiness tapi ada yang tidak setuju, yasudah.

NAH SEKARANG AKU MAU MINTA BANTUAN KALIAN UNTUK VIEW LIKE SUBSCRIBE AND SHARE.
THANKSSS!! tinggal klik link ini nih.............

https://www.youtube.com/channel/UCjXLi3Ju3kYUrfhDlKUd06Q


Jumat, 22 Februari 2019

Sudah Kuduga


Cerita ini terjadi beberapa hari lalu. Kurang ingat, mungkin satu bulan lalu. Desember bulannya, tanggalnya tepat tanggal tua. Namun, tanggal tua bukan berarti kehabisan kekayaan bulanan karena anak ini beda. Beda, dia selalu memiliki pemasukan yang sedikit demi sedikit malah cukup. Banyak dengan cukup itu berbeda ya. Anak ini namanya Sika, dia punya pasangan monyet namanya Raga. Pasangan monyet maksudnya hasil cinta monyet.
Sika berencana memberikan kejutan pada Raga karena saat itu hari ulang tahunnya sekaligus untuk merayakan menjelang tahun baru. Namun, Sika takut kalau Raga tidak memberikan reaksi apa-apa karena Raga itu anaknya cueknya sampai menembus langit. Bila dapat dikata, kalau belu ada truk tanki tabrakan dengan pesawat, dia tidak akan peduli dengan apapun.
Sika menghubungi Raga mendadak di malam hari karena sebenarnya mereka juga tidak kontak setiap detik seperti monyet-monyet dulu karena kesibukan masing-masing. Raga menjawab dengan keraguan, dia tidak tahu apa besok akan bisa datang ke tempat yang ditentukan Sika atau tidak, di tempat makan dalam Mall di kotanya.
Esok hari datang Sika siap berdandan, tapi biasa saja seperti ingin pergi ke sebelah rumah. Dia tidak berpikir kalau Raga itu kalau sudah tidak janji biasanya sudah tidak bisa datang. Akhirnya dia membuat janji dengan temannya apabila Raga tidak datang. Dia berangkat ke Mall. Rasanya dia punya ide gila.
“Aku mending beli tiket bioskop daripada beli jam tangan. Ya ampun mahal-mahal. Dompet? Juga mahal. Aku mungkin harus beli cilok buat dia. Ah dimana ya? Aku beli jajan apa ya? Takutnya dia nggak suka macam-macam yang aku suka. Aku beli eskrim aja. Gila nanti leleh. Duuuuhh aku harus beli apa. Nanti aja di gedung tempat beli tiket bioskop aku tawari dia.”
Akhirnya Sika hanya membawa dirinya keluar Mall menuju gedung bioskop. Dia tidak sengaja melihat seseorang yang dia kenal dan pernah dia benci. Dia sepertinya teman Raga. Namun, Sika tidak mengenalnya untuk apa menyapa walaupun dulunya dia pernah sok kenal. Ahsudahlah seperti tidak ada kerjaan saja menyapa dia. Siapa dia siapa Sika. Begitu pikirnya.
“What? Ada demo apa ini? Aku nggak tahu harus gimana? Cukup nggak ya antri tiket segini banyaknya. Ah cukup.”
Sumpah kalau kalian tahu bagaimana antrinya pasti memilih jam sore daripada setengah jam kemudian. Kalau kalian antri jam 12 sedangkan filmnya jam 1 mungkin kalian dapat tiket film sudah berjalan beberapa waktu. Di antrian belakang, Sika tidak tahu film apa yang harus dia tonton. Ada Hangout, Cek Toko Sebelah, Assassin, dan apalagi tidak tahu. Sampai gilirannya mendekat batinnya masih perang.
“Aku nonton apa ya? Duh sinyal jelek banget. Raga suka film apa ya? Ini baru pertama kali kita nonton bioskop bareng. Aku pernah tanya dia suka film kayak Suicide Squad. Kalau aku beli hangout suka nggak ya apalagi cek toko sebelah. Duh, tapi aku sudah mimpi-mimpi ingin lihat Hangout. Kalau dia nggak suka jadi nggak surprise dong. Apa aku tanya dia aja dulu? Ah tambah nggak surprise.”
Sambil antri dia sms Raga memberitahukannya kalau Sika sudah di tempat, tapi tidak jadi. Dia memberitahu kalau di gedung bioskop. Betapa kaget Raga dengan pernyataan itu. Dia belum memberikan pernyataan bahwa mereka akan ketemu malah Sika sudah bikin ulah dengan keputusannya sendiri. Kemudian dia jujur memberikan tiket bioskop untuk hadiah ulang tahun. Maklum mereka bukan kalangan orang-orang nigrat.
Sika, astaga aku kan bilang nggak janji. Malah kamu sekarang sudah di sana. Tunggu ya, aku kesana. Aku masih ada kelas sebenarnya.
Sms Raga ke Sika menandakan kalau Raga agak khawatir kalau dia tidak bisa menepati janji dalam keraguan. Namun, Sika mengizinkannya tidak datang kala memang dia tidak bisa. Saat itu memang Sika libur, tetapi Raga masuk kuliah.
“Sika, di mana?”
“Di sini.”
Arah memang menunjukkan mereka bertemu walaupun Sika hanya mengatakan di sini. Raga ditawari makan, minum, dan jajan tidak mau. Sika lapar sekali. Dia tidak tahu kalau pasangannya begitu cuek seperti ini. Tahu kalau cuek tapi tidak sangka sampai segitunya. Kalian tahu, Sika dan Raga masuk bioskop, nonton, tanpa makanan. Renyah tidak menurut kalian? Sudahlah memang adanya begitu.
“Sebenarnya tadi aku sudah siapin nraktir di tempat ini (Raga menunjukkan tempat makan dari Hpnya). Ini pedes banget, aku suka pedes.”
“Gila, kenapa nggak bilang? Aku kan bisa ke sana? Gimana kalau abis nonton?”
“Ah pulangnya kan sore. Kapan-kapan aja. Aku nggak bilang kan mau ngasih surprise aja.”
“Ah gila. Aku juga nggak bilang malah ngasih surprise juga, Raga.”
Kalian tahu apa yang terjadi? Mereka sama-sama tidak memberikan kejelasan dalam surprise. Begitulah hasilnya, tidak sesuai harapan. Bahkan Raga menanyakan mengapa tidak menonton Hangout atau Cek toko sebelah saja. Oh my god. Sika dan Raga lucu agaknya. Bagaimana bisa ada kehidupan model seperti ini ya?
Coba bayangkan kalian ya, memberi surprise ke pasangan, tapi di sana pasangan juga ingin memberi surprise. Dan itu berbeda tempat. Harus ada salah satu yang mengalah agar hanya ada satu tempat yang dituju. Dan itu kamu. Namun, surprisemu agaknya gagal. Bayangkan betapa kamu ingin menjalani surprise yang diberikan pasangan kamu? Lucu sangat lucu guys.

Sabtu, 04 Februari 2017

Dua Helm Pencopot Kaki



Pagi masih bersembunyi di balik fajar. Aku bersiap menyusul pagi agar kami tidak terlambat di agenda yang sudah tersedia di kehidupan ini. Pagi ini aku dan kawan-kawanku ada program analisis sosial. Sebenarnya perut ini tidak mau diajak karena pasti, yakin, pasti kelaparan. Aku merayunya, dia tetap tidak mau. Masak iya aku melakukan analisis sosial, tapi perutku kutinggal di rumah? Mana mungkin, jelas tidak mungkin sekali. Temanku, Ratna, dia mencoba merayu perutku juga. Eh ada apakah perut kok dirayu-rayu? Sudahlah. Pukul 09.00 tepat kami siap ke lokasi yang belum kami tahu. Bayangkan kalian hidup di zaman Diponegoro, diberi perintah mencari tempat bernama Kampung Celaket, tapi di sekitar kalian adalah hutan-hutan! Bagaimana kalian bisa sampai dalam waktu setengah jam tanpa gadget pula? Yah apalagi aku dan temanku tidak punya ilmu sakti yang bisa menghilang. Namun, aku bersyukur sekali di dunia ini sudah ada GPS yang bisa menunjukkan arah, kecuali arah menuju dunia barzah.
“Klara! Woi! Ayo berangkat! Aku punya sepeda motor. Coba kamu bawa. Bisa nggak?” senior merusak lamunanku. Senior menawarkan aku sepeda motor, bersyukur lagi.
Tunggu, tapi sumpah aku seumur-umur belum pernah aku ditanya bisa bawa sepeda motor atau tidak. Bagaimana caranya? Apa ditaruh tas belanja emak-emak ke pasar? Atau dibawa pakai tangan saja.
“Aku nggak bisa bawa, tapi bisa naiknya,” senior mengira aku meledeknya.
“Woi sama saja dong naik doang, tapi nggak bisa jalan.”
“Eh maksud aku, naik terus jalan. Kalau bawa gimana juga, nggak bisa jalan dong?”
Semua memandangku. Mereka menggeleng-gelengkan kepala, bukan dzikir untuk mengagungkan keesaan Allah malah menertawakan kepolosanku. Padahal aku tidak pernah merasa polos. Hanya saja saat ini aku merasa sedang berbincang sesama makhluk bodoh. Mengapa? Karena antara naik dan bawa saja dipermasalahkan.
Perjalanan siap aku taklukan. Jalanan kota Malang yang panas bercampur debu siap aku lumpuhkan. Semoga aku bisa mengendarai motor ini, karena terakhir kali aku mengendarai motor milik temanku, lampu depan tidak berwujud alias telah menabrak sesuatu yang sangat keras, mobil. Ya, aku menabrakkannya dengan tidak sengaja.
“Oh ya, Klara mana helm kamu? Mau ada apa-apa kamu? Atau mau ditilang kamu? Kalau gitu jangan pakai motorku!” astaga senior ini sangat bawel sekali.
“Ah bawel amat kak. Sabar kali kak, aku ambil dah kalau harus pakai helm.”
“Klara? Eh Klara? Aku sekalian pinjam helm kamu dong! Kamu mau ambil kan sekarang? Aku nggak punya nih,” kata temanku yang paling imut.
“Ya sekarang dong aku ambilnya, masak besok mana boleh sama kak bawel?”
Dia tidak menjawab hanya meringis, tapi tidak mengurangi kadar manis dan imut dalam dirinya. Menurut teman laki-laki, suaranya saja sudah menggoda. Kalau pun kereta api cepat berangkat harus tepat waktu kemudian mendengar dia bicara memohon pinjam seperti itu, tampaknya dia rela mundur lagi ke stasiun. Septi namanya, temanku yang membuat laki-laki tergoda, tapi namanya sering menemui protes. Namanya Septi, tapi lahirnya bulan Februari. Menurutku wajar-wajar saja ya karena siapa tahu nama lengkap dia Septi Febriana.
“Iya deh iya aku ambilkan helmku, tunggu ya!” kataku sangat jutek.
Aku balapan dengan kilat demi mengambil helm. Namun, dia kalah karena jelas saja hari sedang tidak mendung. Jadi dia masih bersembunyi di balik awan. Helm baru saja aku ambil dalam waktu 10 menit tepat. Sekarang siap tempur menaklukkan hari. Namun, matahari sudah menyiapkan mayones, saos sambal, dan selada. Dia ingin membakarku dulu bersama teman-temanku. Tampaknya matahari tidak punya pisau atau garpu. Bagaimana dia punya? Dia itu jelas, tidak punya tangan. Jadi bagaimana pegang pisau dan garpu?
Akhirnya kami dibakar dan siap disantap panas, sangat panas, topi yang kupakai belum cukup menangkal panasnya. Namun, dingin kesejukan menerpaku saat kulihat manusia ganteng di seberang sana.
“Subhanallah. Setengah malaikat dari langit,” rasa kagumku tidak bisa ditahan.
“Klara! Woi! Klara! (suara klakson sahut menyahut seperti dimainkan),” mendadak semua mengklakson aku. Lamunanku pergi dibawa angin. Aku tidak bisa mengejar. Astaga ternyata aku mengambi arah yang berlawanan dengan teman-temanku.
“Tunggu! Tunggu! Tunggu! Kalian ini gimana, temannya nyasar malah ditinggal.”
“Eh tukang ngelamun. Kamu dipanggil nggak denger. Telingamu mana? Kesumpel?”
Aku hanya diam karena merasa bingung ingin menjawab apa. Teman-temanku kemudian melengos, mengisyaratkan bahwa mereka berkata terserah. Kapung Celaket, ya, kami sudah sampai. kampung ini ada di daerah Klojen, Malang. Dia masih menjadi tetangganya Lowokwaru. Kami menyusuri tempat-tempat yang diperintahkan oleh senior, yaitu tempat yang katanya menjadi induk budaya.
Senior hanya menunjukkan tempat saja. Kami bersama-sama melakukan analisis sosial terutama mengapa daerah ini menjadi induk budaya. Tugas meluncur, pengamatan demi pengamatan terus kami lakukan. Wawancara demi wawancara juga sudah terlaksana untuk meunjang informasi awal. Namun, cara itu membuatku merasa terlalu membuang waktu dan tenaga. Akhirnya aku mengusulkan untuk membagi kelompok kecil saja.
“Mana bisa jadi kelompok kecil? Kita kan satu kesatuan?” kata temanku, Rani.
“Aku hanya ikut saja keputusan kalian,” temanku yang laki-laki sepakat.
“Yasudah kalau gitu kita pecah jadi tiga, kan tadi infonya ada tiga,” kata Septi.
“Nggak bisa! Ayo kita lanjutkan saja pengamatan kita. Tadi kan sudah dapat info tentang alasan kampung ini dinamai dengan Celaket,” Rani mulai cerewet.
“Hei Ran, waktu kita hanya sampai pukul 1 siang. Sekarang sudah setengah 11 baru dapat satu info. Gimana nanti kalau nggak dapat info?”
“Ayo teman-teman kita lanjut saja. Jangan sampai pecah. Nanti saja kita pikir tentang info, google masih belum pensiun kok,” dia tidak mendengarkanku.
Aku mulai pasang wajah biasa dan sok tidak peduli dengan tugas-tugas ini. Aku merasa percuma saja nanti pada akhirnya bukan pengalaman di lapangan, tapi pengalaman di dunia google. Aku tidak ikut bertanya, semua berpusat pada Rani. Aku memutuskan untuk diam dan terus bermain ponsel pintar. Aku tidak peduli hingga membuat dia terusik.
“Klara! Kalau kamu tidak niat, pergi saja! Pulang saja! Oh ya, kalau kamu mau cari info di tempat lain silakan saja! Aku nggak keberatan. Terserah!” dia bernada marah.
“Hmm. Keberatan? Mau ditaruh sepeda motor barangnya biar nggak berat? Oh oke aku cari info ya? Jadi kita masih dapat info nama Kampung Celaket kan? Wawancara tadi apa? Belum dapat? Oh oke deh. Siap!” aku tahu dia gengsi ingin memecah.
“Aku ikut, aku ikut kamu Klar,” dua orang ingin ikut dan yang lain ke tempat lain. Di perjalanan temanku terus bergumam bahwa Rani bukan siapa-siapa mengapa dia sok menjadi ketua. Aku hanya menjawab, mungkin dia ingin diperhatikan.
Kami mulai wawancara. Satu teman laki-laki ikut di kelompokku, namanya Rajo. Namanya sudah dapat ditebak dia berasal dari mana. Ya, Sumatra, pulaunya malin kundang atau sepertinya dia cucunya malin kundang. Eh apa malin kundang mempunyai cucu? Sepertinya tidak. Ahsudahlah, tidak perlu dipikirkan. Dia mengawali wawancara kami, tapi dirasa pertanyaan yang dia ajukan sangat menyimpang hingga membuat kami tertawa.
“Bu, kami dapat tugas dan sebenarnya juga tertarik dengan kampung ini. Boleh saya bertanya, ibu ini anaknya berapa bu?” ibu itu tampak bingung. Dia lucu, bukan lucu manis atau itu. Dia lucu bodoh. Kalaupun ada peristiwa LPG meledak mung,in LPGnya tertawa dahulu mendengar temanku ini. Bodoh, dia mulai bodoh, kocak, ya kocak juga. Kami kaget apa-apaan Rajo menanyakan hal ini. Entahlah hanya dia yang tahu maksudnya.
“Bu kalau anaknya dua terus jualan di sini rame itu pas kapan?” lagi-lagi kami menertawakannya. Ada hubungan apa jumlah anak, jualan, dan tugas kami.
“Rajo, eh Rajo. Apa-apaan sih kamu? (dia memberi isyarat untuk tunggu dan tenang dulu). Sudahlah Rajo gantian kami yang tanya,” bisikku padanya.
Semua pertanyaan selesai dan semua tidak ada artinya menurutku. Narasumber yang kami tanyai sudah tidak ingin diganggu karena banyak pembeli. Rajo menyebalkan.
“Rajo, gimana hasil wawancara kamu? Dapat info apa?” dia berpikir.
“Nggak ada deh kayaknya. Ibu itu tadi anaknya dua terus tukang yang tadi aku temui pas parkir motor ternyata bukan asli orang sini,” wajah polosnya lucu. Mukanya kalau digambarkan dengan barang itu seperti keset (alat membersihkan kaki yang biasa ada di tengah pintu). Kepolosannya layak diinjak-injak karena menyebalkan.
“Woi, kita analisis sosial bukan sensus penduduk. Haduh dasar Rajo.”
“Loh iya kah? Soalnya aku nggak tahu apa itu analisis sosial. Emangnya artinya apa Klara?” aku yang dari tadi geram ternyata tidak mengerti juga apa artinya.
Aku segera memutar otakku yang seperti tertutup jaring laba-laba. Bahkan gir pemutar otakku sedikit berkarat. Tukang bersih-bersih di otakku sudah pensiun. Bagaikan jomblo, tidak bisa membersihkan otakknya sendiri. bayangkan betapa jomblo membersihkan kenangan bersama mantan saja susah apalagi otak berjaring dan berkarat. Pasangan itu pelengkap. Bagai sayur tanpa lauk, seperti itulah jomblo. Seperti WC tanpa kotoran. Eh.
“Ah aku susah menjelaskan analisis sosial apa. Sekarang kita susun aja pertanyaan.”
Akhirnya kami sampai. kami menemukan jodoh, eh, maksudnya menemukan pemilik pembuatan batik. Wawancara memang lancar. Foto-foto juga diperbolehkan. Padahal kami tidak tahu apa yang kami lakukan itu salah atau benar. Informasi hanya dari wawancara pembatik dan pemilik. Entah benar entah salah, kami hanya belajar.
Waktu selesai aku dan temanku kembali ke depan toko, tempat motor kami diparkir. Rajo pulang lebih dulu karena takut terlambat. Di depan toko kami sungguh kaget. Oh tidak, di mana kunci motor? Aku berpikir kalau kunci itu tertinggal di Batik Celaket. Temanku berpikir kuncinya ada di tas. Namun, semua nihil tasnya tidak ada kunci. Dia mengajakku kembali berjalan kaki. What? Tidak mau, kataku, karena terlalu jauh menurutku.
Kami hanya menunggu, siapa tahu ada yang datang dan mencari kami. Ah mana mungkin teman-temanku tidak mencari sampai magrib. Namun, setengah jam berlalu ridak ada yang datang. Aku berencana mengaca di spion motor. Alhasil betapa seperti orang bodoh diriku ini. Kunci motor seniorku ada di kantong motor (biasa ada di motor matic). Aku langsung menertawai temanku, dasar pelupa! Dia juga menertawakan diri sendiri. Kami pergi dengan motor milik senior itu kemudian sampailah bersama teman-teman.
“Bagaimana? Kelompok kita kumpul paling akhir loh. Ayo mana info kalian? Nanti dipresentasikan,” kata si bocah yang sok jadi ketua itu.
Aku hanya melengos padanyanya. Semua info di kelompokku yang menyampaikan adalah Septi, Rani, dan Rajo. Nah laki-laki satu itu yang ditunggu. Bukan tampangnya, tapi lucunya, polosnya yang menyebalkan. Bayangkan, matahari saja kalau mau terbenam tidak jadi, menunggu dia presentasi. Namun, untungnya matahari belum waktunya terbenam.
***
            Semua selesai, aku telah lelah dengan sisa-sisa kepenatan yang tidak kuinginkan. Aku pulang bareng dengan teman-temanku yang searah. Jalan kaki memang nikmat, tapi lelah mengusik kenikmatan kami. Aku bertemu temanku yang naik sepeda. Wah dia seperti mengiming-iming betapa cepat naik sepeda, tapi dia memilih jalan kaki bareng kami. Lalu, dia pamit lebih dahulu karena kita sudah keluar gerbang. Tempat tinggalku sudah menunggu dengan segenap ketentraman di dalamnya. Sudah tidak sabar ingin meletakkan punggung.
            “Oh my god, Silvi. Helmku ketinggalan. Dua helm milik ibu kosku.”
            “Serius Klara? Kok bawa dua? Kamu emang bawa motor?”
            “Iya dua, soalnya tadi temanku, si imut, pinjam. Waduh jauh lagi jalan kaki gimana ini?” aku terpikir biarkan saja. Besok juga aku akan ke sana mengambilnya.
            Aku memutuskan untuk acuh dengan helm itu. Semua mendukungku, aku lega. Aku melanjutkan langkah kakiku untuk membeli makan. Tidak ada dugaan dan sangkaan aku bertemu manusia, temanku, tadi yang naik sepeda. Aku alihkan acuhku menjadi tak acuh. Helm itu kuambil dengan roda dua yang harus dikayuh kencang. Oh tidak, aku lupa cara naik sepeda. Aku naik, sedikit jatuh, naik sedikit jatuh. Oh tidak, satu lagi yang aku rasakan, sepertinya ban sepeda depan kempes. Aduh! Ini membuatku semakin berat melangkah saja. Rasanya seakan kaki ini, kedua kaki ini lepas (copot). Seterusnya begitu sampai di tempat senior-senior tidak kece itu. Aku mengambil helm tanpa rasa damai karena lelah.
            “Sumpah ini kayak membakar kalori, kalau aku pulang badanku kurus. Nanti diusir ibu kosku gimana, karena dia nggak mengenaliku,” aku membayangkan hal itu.
            “Ah tidak mungkin, oh my god. Ini sama saja aku dengan jalan kaki.”
            Aku berbicara dengan diriku sendiri. biarkan orang berkata apa. Aku tambahi lagi kadar maluku. Kupakai helm itu di sepeda dan di kepalaku. Semua meneriakiku, takut ditilang ya, takut ditilang ya.
            “Iya juga sih, aku tidak punya SIM. Segitunya ya aku, takut ditilang sampai naik sepeda saja aku pakai helm,” aku merasa aku sudah gila, tapi demi helm aku bisa.
            Aku tiba di warung nasi, saat itu mereka masih duduk di depan sana seperti tukang parkir. Tertawaan mereka sudah cukup basi menurutku karena sejak dari sana sampai sini aku sudah ditertawai sepuluh ribu fans. Sudahlah. Kaki ini rasanya sudah copot. Sudah hari ini dibakar matahari, helm ketinggalan harus mengambil sendiri, dasar resiko sendiri, eh alias jomblo. Eh apa hubungannya. Sudahlah.

Senin, 21 November 2016

Terbaik Apa Terbalik?

       Begini ceritanya, pakai basa basi dulu atau tidak ya enaknya? Kalau kalian tidak usah pakai basa basi ya baca cerita ini karena kalian saja sudah basi hidupnya. Oke sekarang mulai di mana letak terbaik dan terbaliknya hari ini. Pertama, hari-hari sebelumnya aku mengajak teman-teman yang dekat denganku untuk mengunjungi tempat yang menurutku menarik di kota keduaku. Mereka tidak bisa karena tidak ada waktu. Oh ya sebelumnya aku memberi kalian info lagi bahwa kalau aku berharap bisa bersama-sama mereka ternyata tidak bisa. Yasudah aku sudah tidak berharap sesuatu yang tidak mungkin. Kalian harus bisa tidak peduli ya setelah kepedulian kalian tidak diperhatikan karena itu perbuatan sangat menantang.
       Sudah deh, sudah deh sekarang mulai ceritanya ya. Setelah hari-hari sebelumnya berlalu, aku seperti sudah diujung rasa menyerah dan tanpa harapan. sepertinya sudah tidak ada harapan hidup. Halah apa-apa aku ini? *lebay*. Namun, itu berubah saat negara api menyerang. Ada kawanku yang lama tidak bertemu. Dia mengajakku ke sebuah tempat yang belum pernah aku mendengarnya. Bukan karena tempat itu baru, hanya saja karena aku tidak pernah ke sana, saking noraknya diriku di hadapan temanku. Halah apa lagi aku ini? Dia mengajakku rencananya di hari Minggu. Kalian tahu biasanya hari itu aku melakukan apa? Ya, aku pulang ke kota tercinta, kota kelahiranku. Namun, kali ini tidak, sudah aku iyakan saja daripada sudah tidak ada harpan hidup lagi *lebay*.
       Hari ini hari jumat. By the way, kalau kalian tidak tanya jangan menggerutu saja. Hari Minggu ada acara, hari sabtunya yang belum. Yasudah diam saja di tempat tidur daripada  memaksakan kehendak. Eh, hari Sabtu datang dan hari Jumat sudah jadi masa lalu. Siapa bilang orang kalau cinta itu bisa bertahan lama? Aku saja cinta dengan hari jumat kemarin, bisa-bisanya dia meninggalkanku dan menyuruh hari Sabtu yang menemani. Dia sudah menjadi masa laluku sekarang. Sekarang hari Sabtu,tapi aku ingin bercerita tentang Jumat dulu karena aku masih sangat mencintainya.
       Begini jelasnya. Hari Jumat ini temanku yang tidak terduga-duga menghampiri istanan terbaikku.
       "Aaaaaaaaaaaa!!!!" begitu jeritku ketika dia mengagetkanku.
       Aku tidak pernah menyangka bagaimana kami bisa sedekat ini. Dia berkata bahea hanya ingin mampir melepas rindu dan penat. Rindu ini memang semua lepas bahkan penat yang menumpuk-numpuk malah hilang seketika. Datang lagi temanku yang lain. Bukan datang sih, tapi aku undang ke istanaku. Dia memang banyak bicara, tapi tidak menyebalkan. Semuanya menyenangkan kali ini. Namun, semakin lama semakin mereka berkata kalau ada kelelahan. Seperti di film-film kartun, tiba-tiba seakan di samping kepalaku ada nola lampu berwarna emas menyala *ting* 'aku ada ide'.
       "Gimana kalau kita ke roti panggang?"
       Roti panggang ini tempat di mana orang-orang foto bersama berkedok beli makanan. Tempatnya indah. Penerangannya pas. Pealayannya juga tidak menyebalkan. Mereka tersenyum terus seolah-olah ada air terjun di giginya sampai tidak kering.
       "Aku males," kawanku  mengeluh saat kuajak.
       "Aku mager," kawanku yang banyak bicara.
       "Ayo aku bayar!" siapa tahu kalau gratis bisa mereka mau. Ternyata mereka kasihan padaku. Memang sih kalau wajah-wajah tidak punya uang begini tidak meyakinkan kalau berkata, 'ayo aku bayar!'
       Mereka mau ke roti panggang, tapi patungan. Yay! Aku kira semua berjalan lancar. Aku tidak menyangka setelah selesai mandi, hujan jatuh tanpa komando. Mengapa hujan harus jatuh? Mungkin di langit sana dia tidak berpegangan pada yang lain. Jadi, jatuh deh ke bumi, kasihan. Kalau jatuhnya seperti jatuh cinta pasti rasanya berbunga-bunga. Namun, kalau jatuh seperti jatuh dari tangga itu sangat menyakitkan. *Setengah jam kemudian*
       "Hoi hujan reda!!" hanya aku yang bersemangat. Mereka tetap saja bermalas-malasan.
       "Yok langsung cabut!"
       Tanpa pikir panjang, aku raih baju kesukaanku warna biru. Memang sudah pudar alias lebus. Warnanya memang sudah tidak biru sempurna.
       Di tempat roti panggang kami hanya fokus berfoto-foto. Jadi, kalau makanan sampe anyep itu sudah biasa. Cerita yang paling parah dan tidak kuat menahan tawa saat kami meminta difoto oleh salah satu pelayan. Semua pengunjung yang makan langsung bangkit memandangi kami semua. Mereka pikir ada apa kok kami bisik-bisik dengan pelayan. Karena kami merasa malu, beberapa jepretan selesai lalu kami pilih pulang.
       "Woi kalian memalukan!"
       "Hei hei apa pedulimu? Tapi asyik kan?"
Aku memikir dua kali karena mereka benar, hal gila itu kadang-kadang juga mengasyikkan. Namun mendadak leherku gatal ternyata ada makhluk kecil yang menyengat.
       "Hai guys. Aku mau kasih tahu sesuatu, tapi jangan tertawa ya?" Mereka diam dan memperhatikanku. Mereka konsentrasi penuh seperti ingin mendapat informasi yang serius.
       "Apa?"
       "Eh guys, ini kaosku terbalik loh, kalian tahu?" mereka hanya diam dan berpaling.
       "Kok kalian nggak ketawa?"
       "Katanya nggaj boleh ketawa ya kita diam," salah satu temanku menjawab.
       Hahaha. Suara tawa kami pecah. Kami tertawa di sepanjang jalan pulang karena saat itu jalan kaki. Jadi kami asyik saja tertawa bersama-sama. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa kaos ini terbalik. Aku hanya bisa menahan tawa dan malu. Aku masih berpikir terus dan terus. Coba deh kalian bayangkan. Betapa tidak malu kalau kalian memakai baju terbalik saat kamu di antara kerumunan berbaju kekinian. Berfoto-foto bersama. Dan akhirnya baru sadar bajumu terbalik. Ini terbalik di waktu yang terbaik. Aku berhenti berpikir, masih saja otak ini berpikir malu sambil melihat hasil foto-foto kami bertiga. Memang sedikit tidak terlihat terbakik. Namun inilah pertanyaannya. Terbaik apa terbalik? Hahaha.

Rabu, 16 November 2016

Tak Sesexi Dia

       Siang ini seperti biasa Uki menyiapkan diri untuk kembali ke tempat perantauannya. Waktu tidak pernah diajak kompromi kalau sudah menunggu bus biru langganannya. Sebenarnya ada bus putih yang bisa mengantarnya lebih cepat, tapi harganya lebih mahal sedikit. Otot-ototnya sudah berteriak memanggil Uki yang dari tadi tidak segera dijemput. Seperti pucuk dicinta ulam pun tiba. Kalau ibarat dia melempar bola ke dinding ada imbasnya, bisa jadi tertangkap waktu memantul atau bisa jadi terkena jidat waktu memantul.
       Sudah itu saja basa-basinya. Intinya hari ini Uki sangat sial karena dia tidak dapat tempat duduk. Ototnya semakin berteriak hingga ingin demo menuntut penistaan kesehatan. Apa jadinya kalau perjalanan 3 jam tidak bisa duduk? Yasudahlah. Bus seperti biasa memasukkan penumpan walau sudah penuh. Yang Uki ingat, penumpangnya ada yang naik, berdiri, di tengah pintu. Dia ingat karena waktu itu yang di tengah pintu rambutnya agak seperti mengembang. Dia laki-laki, tampangnya lumayan kalau bagi Uki yang pas-pasan. Rambutnya nyangkut di antara ranting-ranting pohon. Lucu kan? Anggap saja lucu. Untung dia tidak ikut nyangkut di pohon. Mungkin dia pakai sampo yang bahannya dari madu membuat rambut, lembu berkilau walau ikal. Jadi, kesangkut bisa terlepas sendiri. Seakan disisir pakai jari sudah cukup.
       Sebenarnya Uki ini anak perempuan yang wajahnya pas-pasan bila disandingkan Maudy Ayunda. Begitu si katanya, kenapa Maudy Ayunda? Entahlah, dia sangat suka sekali dengannya. Bahkan dia pernah bercita-cita mengoperasi plastik wajahnya seperti dia, tapi itu mustahil. Nanti malah menjadi sinetron baru, kembar tapi palsu.
       Oh ya, ini kenapa jadi basa-basi lagi? Intinya Uki sangat sial, yang pertama sudah tahu kan? Dia berdiri dari 1 jam yang lalu. Namun, untung saja ada bapak-bapak bangku belakang, paling pojok, kanan, deretan sopir, turun di terminal terdekat. Lega rasanya. Demo para otot-otot kaku tebayar sudah. Jadi, di tengah perjalanan ada anak laki-laki, lumayan, tapi sepertinya dia masih imut-imut bau almamater baru, masih mahasiswa baru. Berdiri tepat di depannya, tempat dia berdiri tadi. Dia bawa tas, kamu kira tasnya itu besar? Ya, sangat besar, mungkin diisi adik keponakan Uki yang nakalnya tidak tertolong dunia akhirat bisa itu, adik Uki masih kelas TK A.
       "Maaf mas, ditaruh bagasi saja ya tasnya?"
       "Tidak usah pak, merepotkan."
       Bapak kernet seperti tidak peduli lagi. Namun, aku pikir ini anak malah merepotkan kalau tasnya ditaruh di sini. Bapak kernet memang tugasnya seperti itu, bukan merepotkan. Dasar anak ingusan, ganteng, tapi sedikit tidak jelas. Yang Uki tahu nama anak itu waktu dipanggil temannya, 'ndre'. Jadi, dia menyimpulkan namanya adalah Andre. Bisa ditebak bukan? Pasti bukan Ndrea, Ndrenata, Gendre, atau apalah. Tasnya mulai menutupi kaki Uki yang lemah. Dia hanya minta maaf. Uki bilang dalam hati, baru saja dia dapat rezeki, malah dapat sial lagi.
      Uki mencoba berbincang dengan mbak-mbak sebelah kanan dan kirinya. Cara itu mengalihkannya dari rasa mengeluh dan lain-lain. Awalnya canggung menjadi agak akrab. Mereka bisa tertawa bersama dan kadang saling menertawakan.
       "Uki, lihat tu cowok. Kalau diam terus pas bus belok nanti ekspresi kelabakannya pasti membuatmu ingin menamparnya."
       "Jeni, kamu pikir cuma mas-mas itu. Lihat mbak yang berjilbab biru panjang itu. Dia berdiri, tapi masih sempetnya merem ngantuk. Nanti kalau dia terkantuk ekspresinya lucu, matanya kayak sulit dibuka. Lihat! Lihat itu! Hahahahahah."
       Mereka masih tertawa karena mengamati yang lain yang berdiri. Nata, anak sebelah kanan Uki hanya ikut tertawa karena mungkin dia tidak ada bahan untuk menertawakan yang lain, mending begitu daripada garing kalau dipaksa. Namun, wajah Nata memang terlihat polos-polos diam begitulah. Kalian tahu waktu mereka bertiga sudah akrab? Nata mengeluarkan kresek berwarna hitam. Uki dan Jeni kira dia mau muntah karena mabuk perjalanan. Eh bukan, ternyata Nata bawa makanan sebanyak kresek merah itu. Tidak penuh memang, tapi jumlahnya cukup banyak kalau 2 jam perjalanan pasti belum habis.
       "Dua, ikut," bapak kernet memberi isyyarat pada sopir kalau di depan ada dua penumpang yang akan naik. Waktu itu masuk daerah dataran tinggi yang jalannya berkelok-kelok.
       Uki mulai tertawa tanpa sebab. Dia bisa membayangkan dengan jelas apa yang akan terjadi. Bukan peramal, hanya membayangkan, makanya dia tertawa sedikti terbahak. Tiba-tiba dua penumpang yang baru masuk membentak Uki karena dikira dia menertawakan mereka. Uki menggeleng-geleng sampai dibela Jeni dan Nata. Padahal, dia memang menertawakan mbak-mbak yang baru naik. (Maaf) karena badanya memiliki berat badan berlebih.
       Sial Uki tadi belum teratasi karena kakinya tambah kesemutan karena ditindih tas milik laki-laki tadi. Kini, kakunya diletakkan di atas tas itu tanpa sepengetahuan pemiliknya. Uki mencolek Jeni dan membisikkan sesuatu yang membuat mereka tertawa. Di sana, perempuan dua tadi kualahan menahan dirinya saat bus melewati jalan berkelok-kelok. Jadi, rasanya seperti badannya menggelundung-gelundung di dalam bus, menabrak semua yang di dekatnya. Ada, Uki ingat saat itu ada anak laki-laki kurus di dekat mbak-mbak tadi. Dia sampai berkata ingin cepat turun tanpa alasan yang jelas. Dia naik bersama ketiga temannya. Dia berbisik pada temannya, tidak terdengar memang. Namun, Uki bisa menyimpulkan dengan isyaratnya dia membicarakan dua perempuan sexi tadi yang menyiksa dirinya di jalan berkelok-kelok.
       Semua orang tertawa. Dua perempuan itu tidak lagi galak karena mereka sendiri juga seakan menertawakan diri mereka sendiri. Mereka menggelundung tanpa arah di dalam bus sampai bus memasuki kota. Kota itu tidak lagi banyak kelokan. Ada, tapi tidak banyak.
       "Pak, pertigaan depan."
Laki-laki kurus itu berteriak pada temannya untuk 'ayo cepat'. Namun, lucunya teman-temannya yang ingin siap-siap menuju pintu belakang bingung. Keadaan bus penuh, sangat penuh, banyak yang berdiri, dan dia berdiri di tengah, sedangkan di belakangnya ada dua perempuan tadi. Otomatis jalan untuk keluar tertutup keduaperempuan tadi. Sialnya, saat teman-teman yang ingin turun minta jalan, dua perempuan sexi itu tidak mau turun dulu. Jadi, dia mundur-mundur sampai salah satu pantat sexi itu terkena wajah Uki yang sedang agak merunduk bermain HP.
       "Waow."
       Uki, Jeni, dan Nata sempat berkata waow bebarengan. Lalu, mereka tertawa terbahak-bahak. Uki menyumpahi mbak-mbak tadi semoga sexi dan cepat kurus agar tidak mengenai wajahnya lagi. Susah, masih tetap susah teman-temannya yang mau turun minta jalan. Akhrirnya keduanya turun dahulu. Mereka tidak sengaja menurunkan kaki kiri di tengah pintu bersamaan. Jadi saat itu badan mereka berdua menyangkut di pintu. Hal itu menggundang gelak tawa para penumpang. Yang depan kepo-kepo sampai berdiri ingin melihat. Sopir yang berwajah garang saja juga ikut tertawa.
       "Cepat, pret," walaupun sopir tertawa, dia menyuruh bapak kernet suruh cepat.
       "Sabar bos. Sexi."
       Pada akhirnya memang bisa diatasi, tapi ya butuh waktu yang lama. Mereka sudah seperti tidak peduli malu. Mereka juga ikut tertawa dengan penumpang lain. Itu menurut Uki, sial yang tidak begitu sial. Dia hanya merasa terhina saja terkena pantatnya, tapi yasudahlah. Memang sudah terjadi, mau bagaimana lagi.
       "Aku ingin membalasnya, tapi aku tak sesexi dia," Uki berbisik pada Jeni dan Nata. Mereka memang sudah seperti akrab. Padahal, baru tadi dipertemukan.
      Semua sudah semakin tenang. Tertawaan juga sudah reda. Uki memasang earphone dan mendengarkan lagu kesukaannya. Dia tertidur hingga Jeni membangunkan dan memberitahu bahwa mereka sudah sampai terminal. Rasa sial dan lelah sudah terbayarkan. Pengalaman dan kenangan semakin bertambah. Bahkan dari orang-orang yang baru dia kenal saja mendapat pelajaran berharga. Tertawa tidak harus menertawkan, tapi tertawa bersama. Penyebab tawa bukan berarti dihina, tapi karena dia sangat diperhatikan karena menghibur.
       Uki mau mengabadikan semua itu, tapi apalah daya HP dia tidak memiliki kamera yang bagus. Uki tidak tahu dengan Jeni dan Nata, sepertinya mereka juga tidak merekam, tidak tahu dengan yang lain. Yang jelas, saat ini Uki sudah tidak pernah bertemu mereka lagi.