Haloha...
Sudah lama nggak post info-info menarik ya? Tapi jangan khawatir aku tetap semangat melanjutkan my acne story. Oke terakhir aku bruntusan banyak banget dan ini jerawat terparah yang aku punya selama hidup di dunia. Jerawat mendominasi pili kanan dan kiri. Merah-merah dan menyebabkan bekas. Serasa aku sudah nggak percaya diri lagi. Akhirnya aku mencoba memakan obat pembersih darah kapsida. Bagiku ini lumayan mengurangi jerawat setelah pemakaian beberapa minggu. Namun, apa yang terjadi setelah itu, jerawatku semakin meraja lela. Oh Tuhan apakah semua ini kutukan?
Aku berhenti menggunakan obat itu. Aku mendapat saran dari temanku sebuah obat yang aku lupa namanya, harganya kisaran 125. Aku nggak mau karena aku takut apa yang terjadi padaku sebelumnya. Jadi keputusan terakhir adalah daun pepaya, ibuku bilang daun pepaya manjur untuk mengobati jerawat dan bekasnya. Tapi harus telaten, lumayan dalam 3 bulan bisa berkurang akhirnya kuakhiri pemakaiannya. Setelah wktu terus berjalan aku sudah terbiasa dengan mukaku yg tidak tumbuh jerawat, tetapi bekas jerawat dimana mana. Tapi aku bersyukue dengam itu, setidaknya aku sudah tidak berjerawat lagi.
Aku teruskan kegiatanku sehari-hari, debu, terik matahari, polusi adalah teman setiap hari. Hingga bencana datang lagi. Aku berjerawat lagi dan ini semakin parah. Tapi tidak separah yg dahulu. Aku pasrah. Mungkin jerawat telah menyukaiku dan ingin setia denganku, nggak ingin pisah denganku. Tapi aku nggak mau. Maafkan aku jerawat aku harus membasmimh dengan berbagai cara. Akhirnya aku perempuan cantik dan tak segan aku bercerita tentang jerawat. Dia menyarankanku menggunakan masker tomat. Masker tomat? Akhirnya aku telaten menggunakannya sampai teman kosku berkata bauku kalay malam mirip rujak buah. Aku pikir, emang rujak buah ada tomatnya? Ah entahlah. Kulakukan hampir 3 bulan. Dan apa yang terjadi? Ini sebuah keajaiban. Wajahku bersih hanya tersisa bekas yg tak banyak yakni 2. Kanan 1 kiri 1. Di saat aku menulis artikel ini, bekas jerawatku yang kanan sudah hilang dan memudar. Mulai saat itu aku rajin melakukan peeling, facial, brightening. Entah apalagi namanya. Wajahku semakin bersahabat. Mungkin perempuan itu petunjuk dari Tuhan karena aku pasrah.
Terimakasih. Tips buat kalian yang ingin membasmi jerawat: kalian bisa gunakan apa saja yang kalian cocok, dan telaten, itu kuncinya, telaten. Karena setiap kulit seseorang berbeda beda. Artikel di atas tidakcbermaksud membuat kalian menghinndari produk yang tidak cocok bagi kulitku. Itu hanya ceriraku saja, semoga kalian tetap semangat membasmi jerawat. Oh ya, kalau kalian sudah tidak ingin mengutak utik masalah jerawat. Gakpapa kok yang penting kalian harus percaya diri dengan diri kalian masing-masing. Terimakasih selamat mencoba.
lilaemaliza
Kamis, 09 Agustus 2018
Selasa, 27 Maret 2018
My Acne Story atau Perjalanan Melawan Jerawat
Hai kalian. Lama sekali sangat enggak share postingan. Kali ini mau bahas tentang my acne story atau perjalanan melawan jerawat. Di sini awalnya aku enggak pernah yang namanya muncul jerawat membandel. Walaupun muncul mungkin hanya waktu mau bulanan. Dan itu pun bisa menghilang seiring berjalan waktu. Tapi kali ini sangat membuatku shock kaget pokonya campur aduk. Semester 3 ketika ada acara KKL. Itu wajahku masih polos dan tidak ada noda. Waktu itu perjalanannya sangat panjang dan saking dinginnya kulit mungkin menyesuaikan ya. Langsung muncul jerawat di pipi ku sebelah kiri. Aku biasa saja kan aku pikir itu akan hilang dan kembali seperti wajahku dulu. Tapi pikiranku salah. Sampai pulang KKL jerawat itu masih meninggalkan bekas merah. Aku biarkan karena menurutku itu pasti hilang.
(maaf saya ambil gambar berdasarkan kenyataan. Maaf apabila ada ketidaknyamanan penglihatan atau perasaan. Gambar kedua itu saat memakai acnes sealimg gel)
Ternyata berminggu-minggu enggak hilang saudara-saudara. Aku coba beli acnes sealing gel, kata teman-temanku itu ampuh banget hilangin jerawat. Kalau untuk bekas jerawat ada sendiri. Tapi aku Cuma pakai yang sealing gel. Beberapa hari efeknya sudah terasa sih jerawatku yang baru muncul di pipi kanan itu mulai kempes. Yang di pipi kiri tadi sudah tinggal bekas tapi merah. Aku lanjut pakai itu lumayan membuat wajahku lebih halus.
Hingga pada suatu hari aku harus menggunakan make up untuk tampil acara teatrikal puisi. Maklum selama ini aku make up ya Cuma bedak dan lipstik. Waktu itu aku didandani dalam keadaan wajahku kotor karena pulang kuliah langsung harus siap di ruang ganti, aku Cuma basuh wajahku pakai air dan pakai sabun muka milih temanku. Waktu itu ponds yang warnanya hijau aku kurang tahu ya namanya.
Make up sampai malam. Aku terlalu lelah. Membersihkan muka pun kurang bersih sepertinya aku langsung tidur. Beberapa hari kemudian wajahku mulai bruntusan. Dan ada jerawat satu, mungkin karena mau bulanan ya. Aku bingung enggak tahu apa yang terjadi. Aku Cuma mengandalkan acnes sealing gel. Ternyata dia sudah tidak mempan lagi di wajahku. Wajahku semakin parah. Banyak yang bilang wajahku jadi semakin parah. Dari itu aku nggak pede sama sekali. Aku langsung browsing tentang menyembuhkan jerawat secara alami. Waktu itu aku benar-benar taku menggunakan bahan kimia. Akhirnya aku nemu jeruk nipis.
Dengan cara tepat dia bisa mengurangi jerawat alhasil memang berkhasiat. Aku bertekad akan menggunakan ini sampai sembuh. Lagi lagi karena kegiatan menumpuk membuatku tidak bisa telaten dengan jeruk nipis lagi.
Kemudian aku coba salep sriti. Sebenarnya aku enggak tahu dia punya izin atau tidak tapi sumpah dia manjur banget banget banget. Sampai mulus kembali tapi kamu makainya sebelum tidur saja karena dia glowing banget walau kamu pakai hanya pada jerawatmu saja.
Aku sudah pede dengan kembalinya wajahku yang bersih. Aku ketularan temanku yang sudah bekerja di sebuah bank. Dia selalu menggunakan make up yang lengkap tapi hasilnya natural. Aku beli bb cream, bedak, pensil alis, eyeliner, eyeshadow, blason, dan segala macem aplikatornya juga. Waktu itu aku bener-bener nggak mikir apa yang terjadi selanjutnya.
Beberapa bulan sekitar satu bulan setengah aku rutin make up. Aku lebih suka bepergian walau hanya jarak 500 meter dari kos. Misal foto-foto atau hanya sekedar mampir di kos teman. Dan disitu aku pede banget karena dandan seperti itu. Tapi karena kegiatanku yang sering keluar karena ikut kegiatan jurnalistik. Aku jadi mikir buat beli tabir surya. Waktu itu aku pakai wardah.
Satu bulan kemudian wajahku mulai bruntusan, jerawat sepertinya setiap hari keluar dan salahnya aku memilih jalan pintas dengan menutupnya pakai make up. Parah banget parah jerawatku kembali dan membawa pasukan lebih banyak. Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku berhenti menggunakan make up kecuali tabir surya, bedak, dan lisptik, terkadang mascara.
Bersambung.............
(maaf saya ambil gambar berdasarkan kenyataan. Maaf apabila ada ketidaknyamanan penglihatan atau perasaan. Gambar kedua itu saat memakai acnes sealimg gel)
Hingga pada suatu hari aku harus menggunakan make up untuk tampil acara teatrikal puisi. Maklum selama ini aku make up ya Cuma bedak dan lipstik. Waktu itu aku didandani dalam keadaan wajahku kotor karena pulang kuliah langsung harus siap di ruang ganti, aku Cuma basuh wajahku pakai air dan pakai sabun muka milih temanku. Waktu itu ponds yang warnanya hijau aku kurang tahu ya namanya.
Make up sampai malam. Aku terlalu lelah. Membersihkan muka pun kurang bersih sepertinya aku langsung tidur. Beberapa hari kemudian wajahku mulai bruntusan. Dan ada jerawat satu, mungkin karena mau bulanan ya. Aku bingung enggak tahu apa yang terjadi. Aku Cuma mengandalkan acnes sealing gel. Ternyata dia sudah tidak mempan lagi di wajahku. Wajahku semakin parah. Banyak yang bilang wajahku jadi semakin parah. Dari itu aku nggak pede sama sekali. Aku langsung browsing tentang menyembuhkan jerawat secara alami. Waktu itu aku benar-benar taku menggunakan bahan kimia. Akhirnya aku nemu jeruk nipis.
Dengan cara tepat dia bisa mengurangi jerawat alhasil memang berkhasiat. Aku bertekad akan menggunakan ini sampai sembuh. Lagi lagi karena kegiatan menumpuk membuatku tidak bisa telaten dengan jeruk nipis lagi.
Kemudian aku coba salep sriti. Sebenarnya aku enggak tahu dia punya izin atau tidak tapi sumpah dia manjur banget banget banget. Sampai mulus kembali tapi kamu makainya sebelum tidur saja karena dia glowing banget walau kamu pakai hanya pada jerawatmu saja.
Aku sudah pede dengan kembalinya wajahku yang bersih. Aku ketularan temanku yang sudah bekerja di sebuah bank. Dia selalu menggunakan make up yang lengkap tapi hasilnya natural. Aku beli bb cream, bedak, pensil alis, eyeliner, eyeshadow, blason, dan segala macem aplikatornya juga. Waktu itu aku bener-bener nggak mikir apa yang terjadi selanjutnya.
Beberapa bulan sekitar satu bulan setengah aku rutin make up. Aku lebih suka bepergian walau hanya jarak 500 meter dari kos. Misal foto-foto atau hanya sekedar mampir di kos teman. Dan disitu aku pede banget karena dandan seperti itu. Tapi karena kegiatanku yang sering keluar karena ikut kegiatan jurnalistik. Aku jadi mikir buat beli tabir surya. Waktu itu aku pakai wardah.
Satu bulan kemudian wajahku mulai bruntusan, jerawat sepertinya setiap hari keluar dan salahnya aku memilih jalan pintas dengan menutupnya pakai make up. Parah banget parah jerawatku kembali dan membawa pasukan lebih banyak. Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku berhenti menggunakan make up kecuali tabir surya, bedak, dan lisptik, terkadang mascara.
Bersambung.............
Senin, 01 Mei 2017
Rindu, Sendu
Ketika rindu sudah bukan lagi
rindu
Ketika itu aku tahu
aku bukanlah aku
Jejak tak pernah ada bila
tak diciptakan
Kau, apa kau diciptakan untukku
untuk jejak
Saat rasa sudah lagi tak ada
Semua kenangan tak ada
apa artinya diriku
akan terlart dalam sendu?
#stayconpanna
Malang
27 April 2017
rindu
Ketika itu aku tahu
aku bukanlah aku
Jejak tak pernah ada bila
tak diciptakan
Kau, apa kau diciptakan untukku
untuk jejak
Saat rasa sudah lagi tak ada
Semua kenangan tak ada
apa artinya diriku
akan terlart dalam sendu?
#stayconpanna
Malang
27 April 2017
Minggu, 30 April 2017
Kuliner Antigalau - Adventure Antinyesel
Cerita ini di mulai dari hari dimana aku merasakan kegalauan
yang luar biasa. Bukan karena galau masalahcinta monyet seperti anak-muda pada
umumnya. Ini galau gara-gara memikirkan mengapa warna daun itu hijau, warna
langit biru kadang mendung, enggak penting banget kan ya?
Yang penting kalian sudah baca tulisan ini. Walau awalnya
tidak penting, jangan langsung dibuang, baca kelanjutannya dong. Begini, siang
itu aku benar-benar kurang kerjaan, tidur terus. Aku buat semacam curcol alias
curhat colongan di story instagram. Biar narsisi, biar seperti anak-anak
kekinian itu. Padahal aku sama sekali enggak tahu apa artinya kekinian, yang
jelas itu dambaan bqnget. Oh ya gini story milikku.
“Keluar enak kali ya, apalagi sama pacar. Eh punya pacar
nggak?”
Lebih kurangnya seperti itu lah ya. Masalah emoticon dan
foto yang aku pakai waktu itu nggak penting. Langsung ada yang membalas ke
story itu. Temanku, sebut saja Mawar. Dia hanya bilang,
“Dal”
Ala-ala anak muda, kita sudah paham maksud kata-kata itu.
Tanpa ba bi bu aku bilang Dal juga, aku yang masih bau
bantal, belum mandi, dan enggak tahu mau pakai baju apa, saat itu juga langsung
cari pinjaman motor. Aku ke tempat tinggal temanku, disana kita tanpa tujuan.
“Kemana?”
“Nggak tau”
“Pokok keluar dah”
Akhirnya muter-muter adventure di TV gitu, beberapa kaffe
dan mall kami datangi, satu tempat wisata. Dan yang terakhir sudah malam, mau
pulang masih belum puas, di dekat tempat tinggalku ada sebuah kaffe and eatery.
Sumpah enggak nyesel aku datang kesana, hujan-hujan, malem
yang dingin, astaga suasananya menawan banget. Konsepnya aku suka. Kaffenya
sederhana tapi pelayanannya luar biasa. Anak-anaknya kekinian banget.
Keren-keren, sumpah aku enggak bohong, ganteng-ganteng. Enggak ada yang nggak
ganteng. Ceweknya cantik-cantik. Sumpah kalian bakalah terpesona. Tempat ini
recommended banget buat kamu yang lagi bosan, gabut, nggak jelas mau apa.
Bahkan kamu sendirian kesana loh nggak masalah, semuanya raman-ramah. Bisa jadi
teman dalam sekejap, maksudnya akrab begitu, langsung akrab dan bisa menghapus
rasa kesendirianmu.
Nama kaffenya apa???????? Iya sabar ini aku mau kasih tau
kaliam.
Nama kaffenya
Tahu nggak alamatnya dimana? Jangan sok tahu dulu. Di sini
nih:
JALAN BENDUNGAN SUTAMI 51C, MALANG
Nggak tahu? Oh gini aja, kalian pernah lihat dora? Kalau
nggak tahu alamt kan tanya peta. Nah itu aja kalian tiru. Tanya peta. Hahaha
Kalau masih mau berusaha, patokannya Bingsoo. Pasti semua
sudah tahu ya? Nah jarah empat ruko dekat denga JOE, dekat dengan beringin besar
Bendungam Sutami. Semia orang tau itu.
Datang ya kesana?
Ayolah apa kalian nggak bosan di kamar terus?
Cobalah hal-hal baru termasuk datang ke kaffe baru yang luar
biasa kece. Mau foto dengan barista yang hits? Boleh kok boleh. Backgroundnya
mendukung banget kok buat kamu tampil keren.
Jangan lupa follow instagramnya buat tahu info lebih lanjut
@conpannakaffe #stayconpanna
Jangan lupa juga follow instagram
@lilaifi #stayconpanna buat info lebih mendalam
Ini salah satu penampakan Capuccino dan Coffee Milk pas aku pesan disana
Eh ternyata mereka Open Bar, kita bisa coba belajar sendiri bikin kopi, akhirnya aku bikin Choco Latte, kenapa? karena kata baristanya kalau ingin latte art yang mudah itu pakek Choco latte. Dan sosoknya ini jadinya:
kasih nilai jelek gakpapa yang penting sudah mecoba.
promo Mei 2017
Sabtu, 04 Maret 2017
Puisi Hujan
Puisi Angin
Sabtu, 04 Februari 2017
Dua Helm Pencopot Kaki
Pagi
masih bersembunyi di balik fajar. Aku bersiap menyusul pagi agar kami tidak
terlambat di agenda yang sudah tersedia di kehidupan ini. Pagi ini aku dan
kawan-kawanku ada program analisis sosial. Sebenarnya perut ini tidak mau diajak
karena pasti, yakin, pasti kelaparan. Aku merayunya, dia tetap tidak mau. Masak
iya aku melakukan analisis sosial, tapi perutku kutinggal di rumah? Mana
mungkin, jelas tidak mungkin sekali. Temanku, Ratna, dia mencoba merayu perutku
juga. Eh ada apakah perut kok dirayu-rayu? Sudahlah. Pukul 09.00 tepat kami
siap ke lokasi yang belum kami tahu. Bayangkan kalian hidup di zaman
Diponegoro, diberi perintah mencari tempat bernama Kampung Celaket, tapi di
sekitar kalian adalah hutan-hutan! Bagaimana kalian bisa sampai dalam waktu
setengah jam tanpa gadget pula? Yah
apalagi aku dan temanku tidak punya ilmu sakti yang bisa menghilang. Namun, aku
bersyukur sekali di dunia ini sudah ada GPS yang bisa menunjukkan arah, kecuali
arah menuju dunia barzah.
“Klara!
Woi! Ayo berangkat! Aku punya sepeda motor. Coba kamu bawa. Bisa nggak?” senior
merusak lamunanku. Senior menawarkan aku sepeda motor, bersyukur lagi.
Tunggu,
tapi sumpah aku seumur-umur belum pernah aku ditanya bisa bawa sepeda motor
atau tidak. Bagaimana caranya? Apa ditaruh tas belanja emak-emak ke pasar? Atau
dibawa pakai tangan saja.
“Aku
nggak bisa bawa, tapi bisa naiknya,” senior mengira aku meledeknya.
“Woi
sama saja dong naik doang, tapi nggak bisa jalan.”
“Eh
maksud aku, naik terus jalan. Kalau bawa gimana juga, nggak bisa jalan dong?”
Semua
memandangku. Mereka menggeleng-gelengkan kepala, bukan dzikir untuk
mengagungkan keesaan Allah malah menertawakan kepolosanku. Padahal aku tidak
pernah merasa polos. Hanya saja saat ini aku merasa sedang berbincang sesama
makhluk bodoh. Mengapa? Karena antara naik dan bawa saja dipermasalahkan.
Perjalanan
siap aku taklukan. Jalanan kota Malang yang panas bercampur debu siap aku
lumpuhkan. Semoga aku bisa mengendarai motor ini, karena terakhir kali aku mengendarai
motor milik temanku, lampu depan tidak berwujud alias telah menabrak sesuatu
yang sangat keras, mobil. Ya, aku menabrakkannya dengan tidak sengaja.
“Oh
ya, Klara mana helm kamu? Mau ada apa-apa kamu? Atau mau ditilang kamu? Kalau
gitu jangan pakai motorku!” astaga senior ini sangat bawel sekali.
“Ah
bawel amat kak. Sabar kali kak, aku ambil dah kalau harus pakai helm.”
“Klara?
Eh Klara? Aku sekalian pinjam helm kamu dong! Kamu mau ambil kan sekarang? Aku
nggak punya nih,” kata temanku yang paling imut.
“Ya
sekarang dong aku ambilnya, masak besok mana boleh sama kak bawel?”
Dia
tidak menjawab hanya meringis, tapi tidak mengurangi kadar manis dan imut dalam
dirinya. Menurut teman laki-laki, suaranya saja sudah menggoda. Kalau pun
kereta api cepat berangkat harus tepat waktu kemudian mendengar dia bicara
memohon pinjam seperti itu, tampaknya dia rela mundur lagi ke stasiun. Septi
namanya, temanku yang membuat laki-laki tergoda, tapi namanya sering menemui
protes. Namanya Septi, tapi lahirnya bulan Februari. Menurutku wajar-wajar saja
ya karena siapa tahu nama lengkap dia Septi Febriana.
“Iya
deh iya aku ambilkan helmku, tunggu ya!” kataku sangat jutek.
Aku
balapan dengan kilat demi mengambil helm. Namun, dia kalah karena jelas saja
hari sedang tidak mendung. Jadi dia masih bersembunyi di balik awan. Helm baru
saja aku ambil dalam waktu 10 menit tepat. Sekarang siap tempur menaklukkan
hari. Namun, matahari sudah menyiapkan mayones, saos sambal, dan selada. Dia
ingin membakarku dulu bersama teman-temanku. Tampaknya matahari tidak punya
pisau atau garpu. Bagaimana dia punya? Dia itu jelas, tidak punya tangan. Jadi
bagaimana pegang pisau dan garpu?
Akhirnya
kami dibakar dan siap disantap panas, sangat panas, topi yang kupakai belum
cukup menangkal panasnya. Namun, dingin kesejukan menerpaku saat kulihat
manusia ganteng di seberang sana.
“Subhanallah.
Setengah malaikat dari langit,” rasa kagumku tidak bisa ditahan.
“Klara!
Woi! Klara! (suara klakson sahut menyahut seperti dimainkan),” mendadak semua
mengklakson aku. Lamunanku pergi dibawa angin. Aku tidak bisa mengejar. Astaga
ternyata aku mengambi arah yang berlawanan dengan teman-temanku.
“Tunggu!
Tunggu! Tunggu! Kalian ini gimana, temannya nyasar malah ditinggal.”
“Eh
tukang ngelamun. Kamu dipanggil nggak denger. Telingamu mana? Kesumpel?”
Aku
hanya diam karena merasa bingung ingin menjawab apa. Teman-temanku kemudian
melengos, mengisyaratkan bahwa mereka berkata terserah. Kapung Celaket, ya,
kami sudah sampai. kampung ini ada di daerah Klojen, Malang. Dia masih menjadi
tetangganya Lowokwaru. Kami menyusuri tempat-tempat yang diperintahkan oleh
senior, yaitu tempat yang katanya menjadi induk budaya.
Senior
hanya menunjukkan tempat saja. Kami bersama-sama melakukan analisis sosial
terutama mengapa daerah ini menjadi induk budaya. Tugas meluncur, pengamatan
demi pengamatan terus kami lakukan. Wawancara demi wawancara juga sudah
terlaksana untuk meunjang informasi awal. Namun, cara itu membuatku merasa
terlalu membuang waktu dan tenaga. Akhirnya aku mengusulkan untuk membagi
kelompok kecil saja.
“Mana
bisa jadi kelompok kecil? Kita kan satu kesatuan?” kata temanku, Rani.
“Aku
hanya ikut saja keputusan kalian,” temanku yang laki-laki sepakat.
“Yasudah
kalau gitu kita pecah jadi tiga, kan tadi infonya ada tiga,” kata Septi.
“Nggak
bisa! Ayo kita lanjutkan saja pengamatan kita. Tadi kan sudah dapat info
tentang alasan kampung ini dinamai dengan Celaket,” Rani mulai cerewet.
“Hei
Ran, waktu kita hanya sampai pukul 1 siang. Sekarang sudah setengah 11 baru
dapat satu info. Gimana nanti kalau nggak dapat info?”
“Ayo
teman-teman kita lanjut saja. Jangan sampai pecah. Nanti saja kita pikir
tentang info, google masih belum pensiun kok,” dia tidak mendengarkanku.
Aku
mulai pasang wajah biasa dan sok tidak peduli dengan tugas-tugas ini. Aku
merasa percuma saja nanti pada akhirnya bukan pengalaman di lapangan, tapi
pengalaman di dunia google. Aku tidak ikut bertanya, semua berpusat pada Rani.
Aku memutuskan untuk diam dan terus bermain ponsel pintar. Aku tidak peduli
hingga membuat dia terusik.
“Klara!
Kalau kamu tidak niat, pergi saja! Pulang saja! Oh ya, kalau kamu mau cari info
di tempat lain silakan saja! Aku nggak keberatan. Terserah!” dia bernada marah.
“Hmm.
Keberatan? Mau ditaruh sepeda motor barangnya biar nggak berat? Oh oke aku cari
info ya? Jadi kita masih dapat info nama Kampung Celaket kan? Wawancara tadi
apa? Belum dapat? Oh oke deh. Siap!” aku tahu dia gengsi ingin memecah.
“Aku
ikut, aku ikut kamu Klar,” dua orang ingin ikut dan yang lain ke tempat lain.
Di perjalanan temanku terus bergumam bahwa Rani bukan siapa-siapa mengapa dia
sok menjadi ketua. Aku hanya menjawab, mungkin dia ingin diperhatikan.
Kami
mulai wawancara. Satu teman laki-laki ikut di kelompokku, namanya Rajo. Namanya
sudah dapat ditebak dia berasal dari mana. Ya, Sumatra, pulaunya malin kundang
atau sepertinya dia cucunya malin kundang. Eh apa malin kundang mempunyai cucu?
Sepertinya tidak. Ahsudahlah, tidak perlu dipikirkan. Dia mengawali wawancara
kami, tapi dirasa pertanyaan yang dia ajukan sangat menyimpang hingga membuat
kami tertawa.
“Bu,
kami dapat tugas dan sebenarnya juga tertarik dengan kampung ini. Boleh saya
bertanya, ibu ini anaknya berapa bu?” ibu itu tampak bingung. Dia lucu, bukan
lucu manis atau itu. Dia lucu bodoh. Kalaupun ada peristiwa LPG meledak mung,in
LPGnya tertawa dahulu mendengar temanku ini. Bodoh, dia mulai bodoh, kocak, ya
kocak juga. Kami kaget apa-apaan Rajo menanyakan hal ini. Entahlah hanya dia
yang tahu maksudnya.
“Bu
kalau anaknya dua terus jualan di sini rame itu pas kapan?” lagi-lagi kami
menertawakannya. Ada hubungan apa jumlah anak, jualan, dan tugas kami.
“Rajo,
eh Rajo. Apa-apaan sih kamu? (dia memberi isyarat untuk tunggu dan tenang
dulu). Sudahlah Rajo gantian kami yang tanya,” bisikku padanya.
Semua
pertanyaan selesai dan semua tidak ada artinya menurutku. Narasumber yang kami
tanyai sudah tidak ingin diganggu karena banyak pembeli. Rajo menyebalkan.
“Rajo,
gimana hasil wawancara kamu? Dapat info apa?” dia berpikir.
“Nggak
ada deh kayaknya. Ibu itu tadi anaknya dua terus tukang yang tadi aku temui pas
parkir motor ternyata bukan asli orang sini,” wajah polosnya lucu. Mukanya
kalau digambarkan dengan barang itu seperti keset
(alat membersihkan kaki yang biasa ada di tengah pintu). Kepolosannya layak
diinjak-injak karena menyebalkan.
“Woi,
kita analisis sosial bukan sensus penduduk. Haduh dasar Rajo.”
“Loh
iya kah? Soalnya aku nggak tahu apa itu analisis sosial. Emangnya artinya apa
Klara?” aku yang dari tadi geram ternyata tidak mengerti juga apa artinya.
Aku
segera memutar otakku yang seperti tertutup jaring laba-laba. Bahkan gir
pemutar otakku sedikit berkarat. Tukang bersih-bersih di otakku sudah pensiun.
Bagaikan jomblo, tidak bisa membersihkan otakknya sendiri. bayangkan betapa
jomblo membersihkan kenangan bersama mantan saja susah apalagi otak berjaring
dan berkarat. Pasangan itu pelengkap. Bagai sayur tanpa lauk, seperti itulah
jomblo. Seperti WC tanpa kotoran. Eh.
“Ah
aku susah menjelaskan analisis sosial apa. Sekarang kita susun aja pertanyaan.”
Akhirnya
kami sampai. kami menemukan jodoh, eh, maksudnya menemukan pemilik pembuatan
batik. Wawancara memang lancar. Foto-foto juga diperbolehkan. Padahal kami
tidak tahu apa yang kami lakukan itu salah atau benar. Informasi hanya dari
wawancara pembatik dan pemilik. Entah benar entah salah, kami hanya belajar.
Waktu
selesai aku dan temanku kembali ke depan toko, tempat motor kami diparkir. Rajo
pulang lebih dulu karena takut terlambat. Di depan toko kami sungguh kaget. Oh
tidak, di mana kunci motor? Aku berpikir kalau kunci itu tertinggal di Batik
Celaket. Temanku berpikir kuncinya ada di tas. Namun, semua nihil tasnya tidak
ada kunci. Dia mengajakku kembali berjalan kaki. What? Tidak mau, kataku, karena terlalu jauh menurutku.
Kami
hanya menunggu, siapa tahu ada yang datang dan mencari kami. Ah mana mungkin
teman-temanku tidak mencari sampai magrib. Namun, setengah jam berlalu ridak
ada yang datang. Aku berencana mengaca di spion motor. Alhasil betapa seperti
orang bodoh diriku ini. Kunci motor seniorku ada di kantong motor (biasa ada di
motor matic). Aku langsung menertawai temanku, dasar pelupa! Dia juga
menertawakan diri sendiri. Kami pergi dengan motor milik senior itu kemudian
sampailah bersama teman-teman.
“Bagaimana?
Kelompok kita kumpul paling akhir loh. Ayo mana info kalian? Nanti dipresentasikan,”
kata si bocah yang sok jadi ketua itu.
Aku
hanya melengos padanyanya. Semua info di kelompokku yang menyampaikan adalah Septi,
Rani, dan Rajo. Nah laki-laki satu itu yang ditunggu. Bukan tampangnya, tapi
lucunya, polosnya yang menyebalkan. Bayangkan, matahari saja kalau mau terbenam
tidak jadi, menunggu dia presentasi. Namun, untungnya matahari belum waktunya
terbenam.
***
Semua selesai, aku telah lelah
dengan sisa-sisa kepenatan yang tidak kuinginkan. Aku pulang bareng dengan
teman-temanku yang searah. Jalan kaki memang nikmat, tapi lelah mengusik
kenikmatan kami. Aku bertemu temanku yang naik sepeda. Wah dia seperti mengiming-iming
betapa cepat naik sepeda, tapi dia memilih jalan kaki bareng kami. Lalu, dia
pamit lebih dahulu karena kita sudah keluar gerbang. Tempat tinggalku sudah
menunggu dengan segenap ketentraman di dalamnya. Sudah tidak sabar ingin
meletakkan punggung.
“Oh my god, Silvi. Helmku ketinggalan. Dua helm milik ibu kosku.”
“Serius Klara? Kok bawa dua? Kamu
emang bawa motor?”
“Iya dua, soalnya tadi temanku, si
imut, pinjam. Waduh jauh lagi jalan kaki gimana ini?” aku terpikir biarkan
saja. Besok juga aku akan ke sana mengambilnya.
Aku memutuskan untuk acuh dengan
helm itu. Semua mendukungku, aku lega. Aku melanjutkan langkah kakiku untuk
membeli makan. Tidak ada dugaan dan sangkaan aku bertemu manusia, temanku, tadi
yang naik sepeda. Aku alihkan acuhku menjadi tak acuh. Helm itu kuambil dengan
roda dua yang harus dikayuh kencang. Oh tidak, aku lupa cara naik sepeda. Aku
naik, sedikit jatuh, naik sedikit jatuh. Oh tidak, satu lagi yang aku rasakan,
sepertinya ban sepeda depan kempes. Aduh! Ini membuatku semakin berat melangkah
saja. Rasanya seakan kaki ini, kedua kaki ini lepas (copot). Seterusnya begitu
sampai di tempat senior-senior tidak kece itu. Aku mengambil helm tanpa rasa
damai karena lelah.
“Sumpah ini kayak membakar kalori,
kalau aku pulang badanku kurus. Nanti diusir ibu kosku gimana, karena dia nggak
mengenaliku,” aku membayangkan hal itu.
“Ah tidak mungkin, oh my god. Ini sama saja aku dengan jalan
kaki.”
Aku berbicara dengan diriku sendiri.
biarkan orang berkata apa. Aku tambahi lagi kadar maluku. Kupakai helm itu di
sepeda dan di kepalaku. Semua meneriakiku, takut ditilang ya, takut ditilang
ya.
“Iya juga sih, aku tidak punya SIM.
Segitunya ya aku, takut ditilang sampai naik sepeda saja aku pakai helm,” aku
merasa aku sudah gila, tapi demi helm aku bisa.
Aku tiba di warung nasi, saat itu
mereka masih duduk di depan sana seperti tukang parkir. Tertawaan mereka sudah
cukup basi menurutku karena sejak dari sana sampai sini aku sudah ditertawai
sepuluh ribu fans. Sudahlah. Kaki ini rasanya sudah copot. Sudah hari ini
dibakar matahari, helm ketinggalan harus mengambil sendiri, dasar resiko
sendiri, eh alias jomblo. Eh apa hubungannya. Sudahlah.
Langganan:
Postingan (Atom)






