lilaemaliza

Kamis, 29 September 2016

Laci Tak Sama


Hamparan gunung emas
Hujan berlian
Bentangan tanah luas
Koin-koin berkilauan

Tak sama, dengan suhu pelukanmu
Miliaran waktumu
Suburnya kasih sayangmu
Ibu

Kuundang air mata
Kupatri cinta
Kubuat laci doa
Karena kau tiada

Kediri, Juni 2016


Rabu, 28 September 2016

Semu, Selimut Bahagia




Kebahagiaanku hanya sebatas mimpi
Entah mengapa aku merasa tak mampu
Tak mampu ungkapkan yang buatku tak nyaman
Tak mampu katakan aku membenci seseorang

Ketentramanku hanya sebatas wacana
Tenang, damai, tanpa masalah, hanya sampul
Tragis, miris, tanpa ketenangan, isinya
Wacana yang tak pernah terbaca

Garis cintaku hanya sebatas lambang
Tak dapat menyatukan perbedaan
Semu, tak berwujud
Setia tak setia tidak dapat diukur

Harapanku hanya sebatas angan-angan
Tak dapat kuraih
Tak mampu kugenggam
Sia-sia untuk kujalani

Apa kalian tahu cinta itu khayalan?
Dia tidak nyata
Kenyataan hanya selimut khayalan
Dia tidak nampak, tapi terasa

Mungkinkah mimpi membawa kebahagiaan?
Mungkinkah angan-angan membawa harapan?
Tidak, aku tidak mengerti
Bahagiaku adalah angan, mimpiku adalah harapan

Malang, Juli 2016


Diam Tanda Tanya




Kata orang aku ini bodoh
Bodoh karena mencintaimu tanpa perhitungan
Tapi apa yang harus dihitung dalam cinta?
Bodoh karena terlalu lama mencintaimu

Aku tahu orang ada benarnya
Bagaimana tidak, berulang kali kamu menyakitiku
Tapiaku tetap mencintaimu
Kata orang aku ini hina karenamu
 
Semua orang tahu, kamu pernah mengacuhkanku
Bahkan kamu pernah tidak menganggapku
Apa ini yang orang bilang bodoh? Hina?
Aku hanya bisa diam


Kata orang cintamu hanya sebatas tanda tanya
Kamu selalu meragukanku. Cintaku, cinta kita
Orang bilang kamu jahat
Bagaiman tidak? Kamu merasa sendiri. padahal kamu punya diriku

Aku sadar kata orang, memang aku bodoh
Kau acuhkan aku, ku sayangimu
Kau hempaskanku, ku memelukmu
Kau tak anggap aku, ku puja-puja dirimu

Aku sadar cintamu hanya tanda tanya
Selama kita bersama, waktu terlewat lebih dari umur balita
Kamu terus bertanya pantaskah aku untukmu
Bahkan kamu tega masih sempat mencari yang lain

Dan sekarang, aku sadar aku hina
Selama bersama, bertemu pun jarang
Ibarat selama ibu mengandung, selama itu kita bertemu hanya tiga kali
Bukan karena jarak, hanya meragukanku, tapi tak mampu melepasku

Malang, Juli 2016